Memilih material untuk lantai luar ruangan (outdoor decking) memang gampang-gampang susah. Area outdoor seperti tepi kolam renang, balkon, atau taman sangat sering terpapar air hujan dan kelembapan tinggi. Di Indonesia, dua jenis kayu keras lokal yang paling populer untuk urusan ini adalah Merbau dan Bengkirai.
Kedua kayu ini terkenal sangat kuat, namun jika pertanyaannya adalah “mana yang lebih tahan air?”, jawabannya memerlukan analisis mendalam terhadap karakteristik alami masing-masing kayu. Yuk, kita bedah bersama!
Karakteristik dan Ketahanan Air Kayu Merbau
Kayu Merbau adalah salah satu kayu premium yang memiliki tingkat awet kelas I-II dan tingkat kuat kelas I-II. Kayu ini memiliki warna khas cokelat kemerahan yang eksotis dengan serat yang relatif lurus.
Kelebihan Merbau terhadap Air
Kayu merbau memiliki kandungan minyak alami. Merbau memiliki kandungan minyak alami yang cukup tinggi. Minyak ini bertindak sebagai tameng protektif yang menahan air agar tidak mudah meresap ke dalam serat kayu.
Stabilitas kayu merbau sangatlah tinggi. Daya susut dan memuai kayu Merbau sangat rendah. Artinya, ketika basah terkena hujan lalu kering tersengat matahari, kayu ini tidak mudah melengkung atau retak.
Kelemahan Merbau saat Terkena Air
Masalah Getah Merah menjadi perhatian utama jika Anda menggunakan decking merbau. Ini adalah karakteristik paling terkenal dari Merbau. Saat pertama kali atau beberapa kali awal terkena air (terutama air hujan), Merbau akan mengeluarkan tannin atau getah berwarna merah gelap seperti teh pekat. Getah ini bisa mengotori lantai semen atau semen di sekitarnya. Meskipun sifat ini akan berhenti setelah beberapa bulan, ini adalah poin penting yang harus diantisipasi.
Karakteristik dan Ketahanan Air Kayu Bengkirai
Kayu Bengkirai atau yang sering dikenal di pasar internasional sebagai Yellow Balau, memiliki warna kuning kecokelatan. Kayu ini adalah petarung di kelas berat dengan tingkat kuat kelas I dan tingkat awet kelas I-II.
Kelebihan Bengkirai terhadap Air
Bengkirai memiliki kepadatan yang sangat tinggi, sehingga membuatnya sangat berat. Kepadatan yang tinggi ini membuat pori-pori kayu sangat rapat, sehingga air memiliki ruang yang sangat minim untuk merembes masuk ke dalam struktur kayu.
Berbeda dengan kayu Merbau dari Papua, Bengkirai tidak mengeluarkan getah berwarna yang dapat merusak estetika lantai di sekelilingnya saat basah.
Kelemahan Bengkirai saat Terkena Air
Bengkirai memiliki sifat mekanis yang lebih kaku. Jika sering mengalami siklus basah-kering yang ekstrem tanpa perawatan (coating) yang tepat, Bengkirai cenderung lebih mudah mengalami retak-retak kecil di permukaannya dan sedikit melintir dibandingkan Merbau. Ditengarai retak rambut ini adalah mekanisme bengkirai untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Jadi, Mana yang Lebih Unggul?
Secara teknis, Kayu Bengkirai sedikit lebih unggul dalam hal menahan penyerapan air secara fisik karena tingkat kepadatannya yang luar biasa tinggi dan pori-porinya yang sangat rapat. Bengkirai juga sangat cocok untuk area yang benar-benar basah seperti decking kolam renang karena Anda tidak perlu pusing memikirkan risiko lunturan getah merah ke air kolam.
Namun, jika Anda mencari stabilitas jangka panjang di mana kayu tidak mudah memuai, menyusut, atau retak akibat cuaca lembap, Kayu Merbau adalah pemenangnya. Anda hanya perlu bersabar menghadapi fase lunturnya getah merah di awal pemasangan. Selain kedua jenis kayu tersebut, kayu ulin juga sangat direkomendasikan.
Tips Tambahan: Apapun pilihan Anda, kunci utama ketahanan air decking outdoor tetap berada pada pemasangan yang benar (memberi jarak antar bilah untuk jalur air) dan perawatan berkala menggunakan wood filler dan outdoor water-based coating setiap 1–2 tahun sekali.